
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat mewakili Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) di BSD, Tangerang.
Transformasi Nilai Tambah Komoditas Tambang
Bahlil menegaskan bahwa lonjakan signifikan nilai ekspor nikel merupakan bukti nyata keberhasilan kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah (raw material) yang dilanjutkan dengan pengolahan di dalam negeri. Kebijakan ini dinilai terbukti mentransformasi struktur ekonomi nasional secara konkret.
"Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional," ujar Bahlil Lahadalia.
Nilai ekspor nikel mencatatkan lompatan besar dari sekitar 3,3 miliar dolar AS pada periode 2017–2018, naik menjadi 34 miliar dolar AS pada 2023, hingga akhirnya melampaui 40 miliar dolar AS.
Peta Jalan Hilirisasi 2040 Targetkan Investasi USD 618 Miliar
Guna memperluas dampak positif ke sektor-sektor strategis lainnya, pemerintah telah merancang peta jalan (master plan) hilirisasi nasional hingga tahun 2040 dengan target total investasi mencapai 618 miliar dolar AS.
Cakupan agenda hilirisasi jangka panjang ini tidak terbatas pada komoditas mineral dan batu bara semata, melainkan merambah ke sektor minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga sektor pertanian.
Dorongan Industri Hijau dan Penguatan Pelaku Usaha Lokal
Di tengah dinamika pasar global, pemerintah mendorong pengolahan nikel dan industri manufaktur berbasis energi baru terbarukan (green energy dan green industry). Produk berbasis industri hijau dinilai memiliki nilai jual dan daya saing yang jauh lebih tinggi di pasar internasional.
Selain mendorong investasi skala besar, hilirisasi turut membuka peluang keterlibatan pengusaha nasional dan UMKM lokal, mempercepat transfer teknologi, serta menciptakan lapangan kerja baru secara berkelanjutan.
.png)












