
Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya mencari solusi energi yang lebih efisien sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap LPG, khususnya LPG yang masih harus dipenuhi melalui impor.
ANG merupakan teknologi penyimpanan gas alam menggunakan material adsorben sehingga gas dapat disimpan pada tekanan yang lebih rendah dibandingkan teknologi Compressed Natural Gas (CNG). Teknologi tersebut sebelumnya telah dikaji untuk mendukung distribusi gas bumi pada skala kecil hingga menengah.
Teknologi ANG Jadi Alternatif Pengganti LPG
Pengembangan ANG dinilai memiliki peluang untuk mendukung diversifikasi energi nasional. Dengan memanfaatkan gas bumi sebagai sumber energi, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan LPG di sektor rumah tangga.
Berbeda dengan LPG yang membutuhkan proses pencairan agar dapat disimpan dalam tabung, ANG menyimpan gas alam dalam kondisi teradsorpsi pada material tertentu. Mekanisme tersebut memungkinkan gas disimpan pada tekanan operasi yang lebih rendah dibandingkan CNG.
Kajian Lemigas sebelumnya mencatat bahwa ANG dapat menggunakan karbon aktif sebagai adsorben dan beroperasi pada tekanan sekitar 30 bar, jauh lebih rendah dibandingkan tekanan penyimpanan CNG yang berada di kisaran 200 bar.
Berpotensi Kurangi Beban Impor LPG
Pengembangan teknologi alternatif menjadi penting karena kebutuhan LPG domestik masih cukup besar, sementara sebagian kebutuhan tersebut harus dipenuhi melalui impor.
Jika teknologi berbasis gas bumi dapat diterapkan secara luas dan ekonomis, ketergantungan terhadap LPG impor berpotensi ditekan. Pengurangan impor pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap efisiensi biaya energi dan ketahanan energi nasional.
Potensi penghematan yang disoroti dalam pengembangan teknologi ini mencapai sekitar Rp26 triliun.
Angka tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan teknologi alternatif pengganti LPG mendapat perhatian dalam agenda riset dan inovasi energi Indonesia.
ANG Memiliki Tantangan Pengembangan
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, penerapan ANG untuk kebutuhan rumah tangga tidak serta-merta dapat dilakukan secara luas.
Kajian mengenai ANG untuk sektor rumah tangga menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih membutuhkan dukungan spesifikasi teknis tabung yang sesuai. Faktor keamanan, desain penyimpanan, kapasitas, distribusi, serta keekonomian menjadi aspek penting sebelum teknologi dapat digunakan secara komersial.
Artinya, pengembangan teknologi tidak hanya berfokus pada kemampuan menyimpan gas, tetapi juga bagaimana sistem tersebut dapat digunakan masyarakat secara aman, efisien, dan kompetitif dibandingkan LPG.
BRIN Dorong Diversifikasi Energi
Pengembangan ANG menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas pilihan sumber energi Indonesia. Diversifikasi tersebut dibutuhkan agar kebutuhan energi nasional tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan bakar.
Selain teknologi ANG, pengembangan alternatif LPG di Indonesia juga mulai diarahkan pada pemanfaatan sumber energi domestik lainnya.
Sebelumnya, BRIN bersama PTPN IV PalmCo juga mengembangkan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG) berbasis limbah kelapa sawit. Gas biomethana tersebut dikaji sebagai alternatif LPG sekaligus bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.
Pemanfaatan limbah sawit menjadi sumber energi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sejumlah pilihan untuk memperkuat ketahanan energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik.
Peluang Menuju Energi yang Lebih Mandiri
Pengembangan teknologi ANG memberikan peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan gas bumi secara lebih luas sebagai bagian dari kebutuhan energi masyarakat.
Jika aspek teknologi, keamanan, infrastruktur, distribusi, dan keekonomian dapat diselesaikan, ANG berpotensi menjadi salah satu pilihan dalam mengurangi ketergantungan terhadap LPG.
Di sisi lain, keberhasilan teknologi tersebut tetap bergantung pada kesiapan implementasi di lapangan. Riset dan pengembangan perlu dilanjutkan hingga teknologi benar-benar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dengan standar keselamatan dan biaya yang kompetitif.
Dengan potensi penghematan hingga Rp26 triliun yang disoroti, pengembangan ANG menjadi salah satu inovasi yang menarik dalam upaya Indonesia mencari alternatif energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
.png)

.jpeg)





