
Kepala BGN Sudaryono mengungkapkan bahwa skema MBG prasmanan terbukti lebih efektif dalam menekan limbah makanan (food waste) sekaligus mendorong tingkat konsumsi dan asupan gizi para siswa menjadi lebih tinggi.
Siswa Bebas Mengukur Porsi: Makanan Lebih Segar dan Tidak Mubazir
Model penyajian prasmanan memberikan keleluasaan bagi para siswa untuk mengambil makanan sesuai dengan kapasitas dan porsi kebutuhan masing-masing. Hal ini secara signifikan mengurangi potensi makanan sisa terbuang jika dibandingkan dengan skema porsi kemasan siap makan (box/tray) yang seragam.
Selain menekan limbah sisa makanan, skema prasmanan memastikan masakan yang disajikan di ruang kelas tetap dalam kondisi segar, hangat, dan lebih menggugah selera. Siswa yang membutuhkan asupan lebih juga diberi kesempatan untuk menambah porsi makanan, sehingga pemenuhan nutrisi dan gizi harian anak-anak dapat terpenuhi dengan maksimal.
Anggaran Tetap Efektif Tanpa Biaya Tambahan
Meskipun menyajikan skema yang lebih fleksibel dan segar, BGN menegaskan bahwa penerapan metode prasmanan tidak mengubah ataupun menambah alokasi anggaran yang telah ditetapkan.
Kepala BGN Sudaryono menekankan bahwa nilai alokasi anggaran MBG tetap dipatok pada angka Rp15.000 per porsi. Efisiensi ini membuktikan bahwa peningkatan kualitas layanan gizi dapat dicapai melalui tata kelola dan metode penyajian yang lebih cermat di lapangan.
Target 5.000 SPPG dan Sebaran Piloting Prasmanan di Seluruh Indonesia
Hingga pertengahan Oktober 2026, BGN telah meluncurkan program percontohan (piloting) penyajian prasmanan di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sebaran piloting ini mencakup wilayah Pulau Jawa, Sumatera (Aceh dan Palembang), hingga ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), salah satunya di Merauke.
Melihat respon positif dari sekolah dan para siswa, BGN menargetkan sebanyak 5.000 SPPG dapat menerapkan Program MBG dengan metode prasmanan pada akhir tahun 2026.
"Pelaksanaan MBG prasmanan tentu disesuaikan dengan kesiapan masing-masing pihak dapur SPPG dan sekolah. Jika sudah terbiasa, skema ini sangat bagus untuk membangun edukasi pola makan anak sekaligus memastikan makanan yang disiapkan tidak mubazir," jelas Kepala BGN Sudaryono.
Edukasi Kemandirian dan Budaya Bebas Limbah di Sekolah
Selain dampak positif pada asupan gizi dan efisiensi bahan pangan, MBG prasmanan turut membentuk nilai-nilai pendidikan karakter bagi para murid. Siswa dilatih untuk mandiri, mengantre dengan tertib, mengukur kebutuhan porsi makan pribadi, serta menghargai makanan yang disajikan.
Inovasi ini mempertegas komitmen BGN dalam menyelenggarakan program pemenuhan gizi nasional yang tidak hanya berdampak besar bagi kesehatan fisik generasi penerus, tetapi juga ramah lingkungan dan efisien secara operasional.
.png)










