
Pelemahan Rupiah Dipengaruhi Tekanan Global, Ekspor Indonesia Berpotensi Menguat
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta penguatan indeks dolar AS akibat tensi geopolitik internasional.
Meski memicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya impor dan tekanan inflasi, sejumlah ekonom menilai kondisi ini juga membuka peluang positif bagi perekonomian nasional, khususnya dalam meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
Berdasarkan laporan Liputan6.com, pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe haven) di tengah gejolak global. Kondisi tersebut turut dirasakan berbagai negara berkembang lainnya yang mata uangnya mengalami tekanan serupa.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menyebut depresiasi rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
“Produk ekspor Indonesia akan menjadi relatif lebih murah di luar negeri sehingga dapat meningkatkan permintaan,” ujarnya seperti dikutip dari Liputan6.com.
Pemerintah Dinilai Siap Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Di tengah tekanan kurs rupiah, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dinilai tetap memiliki ruang kebijakan yang kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Berbagai langkah stabilisasi terus dilakukan, mulai dari intervensi pasar valas, penguatan cadangan devisa, hingga optimalisasi kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA).
Kebijakan hilirisasi industri yang selama beberapa tahun terakhir didorong pemerintah juga dinilai menjadi salah satu fondasi penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak eksternal.
Penguatan sektor manufaktur dan industri berbasis sumber daya alam dianggap mampu mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk ekspor nasional.
Selain itu, program substitusi impor yang terus digencarkan pemerintah disebut mulai menunjukkan relevansi di tengah pelemahan rupiah. Dengan meningkatnya penggunaan produk dalam negeri, tekanan terhadap kebutuhan impor dinilai dapat ditekan secara bertahap.
Sektor Ekspor Berpotensi Mendapat Keuntungan
Sejumlah sektor diperkirakan akan memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah, terutama industri berorientasi ekspor seperti kelapa sawit, batu bara, perikanan, tekstil, alas kaki, hingga produk manufaktur tertentu.
Kondisi kurs saat ini membuat harga produk Indonesia lebih kompetitif dibanding negara lain, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan dari pasar internasional.
Di sisi lain, sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor memang menghadapi tantangan akibat kenaikan biaya produksi. Industri elektronik, otomotif, farmasi, dan pangan impor diperkirakan menjadi sektor yang paling terdampak.
Namun demikian, sejumlah pengamat menilai kondisi tersebut dapat menjadi momentum percepatan transformasi industri nasional agar lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada produk impor.
Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Solid
Meski rupiah melemah, sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5 persen pada kuartal pertama 2026, sementara inflasi dinilai masih terkendali dibanding sejumlah negara lain.
Cadangan devisa Indonesia juga masih berada pada level yang cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar dan kebutuhan pembiayaan eksternal.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi dinamika global, terutama arah kebijakan suku bunga AS dan perkembangan geopolitik internasional.
Meski demikian, ia menilai tekanan terhadap rupiah masih berada dalam batas yang dapat diantisipasi pemerintah dan otoritas moneter.
Dengan kondisi tersebut, pelemahan rupiah dinilai bukan semata-mata mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi nasional, melainkan bagian dari dampak tekanan global yang juga dialami banyak negara berkembang lainnya. Pemerintah pun dinilai memiliki peluang untuk memanfaatkan momentum ini guna memperkuat ekspor, mempercepat hilirisasi, dan meningkatkan daya saing industri nasional.










