4 min read483

Di Tengah Rupiah Bergejolak, Mengapa 8 dari 10 Warga Indonesia Masih Percaya pada Persatuan Bangsa?

Saat nilai tukar rupiah menghadapi tekanan, ekonomi global dilanda ketidakpastian, dan konflik geopolitik terus membayangi berbagai negara, mayoritas masyarakat Indonesia justru tetap menilai keamanan nasional, kerukunan antarumat beragama, dan persatuan bangsa berada dalam kondisi baik. Hasil Survei Poltracking Indonesia menunjukkan bahwa fondasi sosial Indonesia masih kuat di tengah badai global. Pertanyaannya, apa yang membuat kepercayaan publik tetap bertahan ketika tantangan ekonomi sedang meningkat?

O

OP Admin

Published in Arah Informasi

Loading...
Di Tengah Rupiah Bergejolak, Mengapa 8 dari 10 Warga Indonesia Masih Percaya pada Persatuan Bangsa?

Sebuah Paradoks yang Menarik Perhatian

Biasanya, ketika ekonomi menghadapi tekanan, kepercayaan publik ikut mengalami penurunan.

Sejarah di banyak negara menunjukkan bahwa gejolak nilai tukar, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian ekonomi sering kali berujung pada meningkatnya ketidakpuasan sosial dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi negara.

Namun Indonesia tampaknya sedang menunjukkan cerita yang berbeda.

Survei Poltracking Indonesia periode 11–17 Mei 2026 mencatat bahwa 77,8 persen masyarakat menilai keamanan nasional masih terjaga. Sebanyak 80 persen responden menyebut kerukunan antarumat beragama berada dalam kondisi baik, sementara 77,4 persen menilai persatuan bangsa tetap kokoh.

Padahal survei tersebut dilakukan ketika dunia sedang menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan.

Di sinilah letak paradoksnya. Masyarakat mengakui adanya tantangan ekonomi, tetapi pada saat yang sama tetap percaya bahwa fondasi kebangsaan Indonesia masih kuat.


Ketika Dunia Terbelah, Indonesia Tetap Bertahan

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan meningkatnya polarisasi politik dan sosial di berbagai negara.

Ketegangan geopolitik, konflik regional, krisis energi, hingga inflasi telah memicu ketidakstabilan di banyak kawasan.

Tidak sedikit negara yang menghadapi penurunan kepercayaan terhadap institusi publik sebagai dampak dari tekanan tersebut.

Namun Indonesia justru memperlihatkan tingkat ketahanan sosial yang cukup tinggi.

Sebagai negara dengan lebih dari 280 juta penduduk, ratusan kelompok etnis, serta keberagaman agama dan budaya yang sangat luas, mempertahankan tingkat kepercayaan publik di atas 77 persen bukanlah perkara sederhana.

Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki keyakinan terhadap kemampuan negara menjaga stabilitas dan harmoni sosial.


Stabilitas yang Sering Tidak Terlihat

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian publik.

Ketika keamanan terjaga, masyarakat cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Ketika konflik tidak terjadi, banyak orang menganggapnya sebagai keadaan yang memang seharusnya demikian.

Padahal stabilitas membutuhkan kerja yang terus-menerus.

Ia lahir dari koordinasi institusi negara, efektivitas penegakan hukum, pengelolaan konflik sosial, hingga kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan dalam menghadapi berbagai isu sensitif.

Karena itu, ketika mayoritas masyarakat masih merasa aman dan percaya terhadap kondisi persatuan bangsa, sesungguhnya mereka sedang memberikan penilaian terhadap hasil kerja yang tidak selalu terlihat secara langsung.

Stabilitas yang terjaga memungkinkan aktivitas ekonomi berjalan, investasi masuk, dan pembangunan berlangsung tanpa gangguan besar.


Publik Tidak Sedang Menutup Mata terhadap Masalah

Hasil survei ini juga menunjukkan sesuatu yang menarik.

Tingkat kepuasan terhadap kondisi ekonomi berada di angka 59,2 persen, jauh di bawah angka keamanan dan persatuan nasional.

Ini berarti masyarakat tetap merasakan tekanan ekonomi yang sedang terjadi.

Namun mereka mampu membedakan antara tantangan ekonomi dan kondisi keamanan nasional.

Dengan kata lain, publik tidak sedang memberikan penilaian yang seragam terhadap seluruh aspek pemerintahan.

Mereka tetap kritis terhadap sektor yang dianggap membutuhkan perbaikan, tetapi tetap memberikan apresiasi pada sektor yang dinilai berjalan baik.

Fenomena ini menunjukkan tingkat kedewasaan politik masyarakat yang semakin berkembang.


Modal Besar untuk Pemerintahan Prabowo

Bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tingkat kepercayaan publik terhadap keamanan dan persatuan merupakan modal strategis yang sangat penting.

Tidak semua negara memiliki kemewahan berupa stabilitas sosial yang kuat ketika menghadapi tekanan ekonomi global.

Kepercayaan publik menciptakan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai agenda strategis nasional, mulai dari ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, hingga reformasi birokrasi.

Dengan fondasi sosial yang relatif stabil, pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk fokus pada penyelesaian berbagai tantangan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat.

Namun modal tersebut tentu harus diikuti dengan hasil yang nyata.

Kepercayaan yang tinggi perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan daya beli masyarakat.


Pertanyaan Besarnya: Akan Dibawa ke Mana Kepercayaan Ini?

Kepercayaan publik bukanlah tujuan akhir.

Ia adalah modal awal.

Banyak negara memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada satu periode, tetapi gagal mempertahankannya karena tidak mampu menjawab harapan masyarakat.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah masyarakat percaya kepada negara.

Pertanyaannya adalah apakah kepercayaan tersebut dapat diubah menjadi kebijakan yang menghasilkan manfaat nyata.

Jika berhasil, Indonesia tidak hanya memiliki stabilitas sosial yang kuat, tetapi juga fondasi ekonomi yang lebih kokoh untuk menghadapi masa depan.


Kesimpulan

Hasil Survei Poltracking menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih menaruh kepercayaan tinggi terhadap keamanan nasional, kerukunan antarumat beragama, dan persatuan bangsa meskipun dunia sedang menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan geopolitik.

Temuan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang sangat berharga di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa modal kepercayaan tersebut mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan dan kemajuan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari kemampuannya menghadapi krisis, tetapi juga dari kemampuannya memanfaatkan kepercayaan rakyat untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles