
Di Tengah Kecemasan Global, Indonesia Menunjukkan Cerita yang Berbeda
Tahun 2026 bukanlah periode yang mudah bagi banyak negara.
Perekonomian dunia masih dibayangi ketidakpastian. Perang dan konflik di berbagai kawasan memengaruhi perdagangan internasional. Tekanan terhadap mata uang negara berkembang meningkat. Arus modal bergerak lebih cepat dan lebih sensitif terhadap sentimen global.
Dalam kondisi seperti itu, biasanya yang pertama kali terpengaruh bukan hanya ekonomi, tetapi juga psikologi publik.
Masyarakat menjadi lebih pesimistis.
Kepercayaan terhadap institusi melemah.
Dan stabilitas sosial mulai mengalami tekanan.
Namun Indonesia menunjukkan gambaran yang berbeda.
Survei Poltracking Indonesia menemukan bahwa 77,8 persen masyarakat menilai keamanan nasional tetap terjaga. Sebanyak 80 persen menilai kerukunan antarumat beragama dalam kondisi baik. Sementara 77,4 persen menyatakan persatuan bangsa masih kuat.
Pertanyaannya bukan sekadar mengapa angkanya tinggi.
Pertanyaannya adalah: mengapa angka tersebut tetap tinggi ketika situasi global sedang tidak baik-baik saja?
Stabilitas Adalah Hasil dari Kerja yang Tidak Selalu Terlihat
Salah satu karakteristik stabilitas adalah sering kali tidak disadari ketika ia hadir.
Masyarakat baru menyadari pentingnya keamanan ketika keamanan terganggu.
Masyarakat baru menyadari pentingnya persatuan ketika konflik muncul.
Padahal menjaga stabilitas jauh lebih sulit daripada memulihkannya setelah rusak.
Indonesia adalah negara yang sangat kompleks.
Lebih dari 270 juta penduduk, ratusan kelompok etnis, berbagai agama, serta dinamika politik yang aktif menjadikan stabilitas nasional sebagai pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Karena itu, ketika mayoritas masyarakat masih menilai bahwa keamanan dan persatuan nasional terjaga, hal tersebut menunjukkan adanya kapasitas institusional yang masih bekerja secara efektif.
Pemerintahan Prabowo dan Prioritas pada Stabilitas Nasional
Sejak awal pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto menempatkan stabilitas nasional sebagai salah satu fondasi utama pembangunan.
Pendekatan ini terlihat dari berbagai upaya memperkuat keamanan nasional, menjaga ketahanan negara, memperkuat koordinasi antarlembaga, serta mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara yang aktif dan seimbang dalam percaturan internasional.
Di tengah meningkatnya rivalitas global, Indonesia tetap mampu menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai kekuatan dunia tanpa kehilangan independensi kebijakan luar negerinya.
Pendekatan seperti ini tidak selalu menghasilkan berita yang spektakuler.
Namun justru karena itulah dampaknya sering muncul dalam bentuk yang lebih mendasar: rasa aman masyarakat dan kepercayaan terhadap kondisi bangsa.
Angka 77 Persen Sesungguhnya Adalah Modal Nasional
Dalam pembangunan modern, modal tidak hanya berbentuk uang atau investasi.
Kepercayaan publik juga merupakan modal yang sangat penting.
Negara yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi akan lebih mudah menjalankan reformasi, menarik investasi, dan menjaga stabilitas sosial.
Sebaliknya, negara yang kehilangan kepercayaan publik akan menghadapi kesulitan bahkan untuk menjalankan kebijakan yang sebenarnya baik.
Hasil survei Poltracking menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki modal tersebut.
Dan di tengah situasi global saat ini, modal kepercayaan bisa menjadi aset yang sama berharganya dengan pertumbuhan ekonomi.
Masyarakat Tetap Kritis terhadap Ekonomi
Menariknya, survei yang sama juga menunjukkan bahwa publik tidak memberikan penilaian secara seragam.
Tingkat kepuasan terhadap kondisi ekonomi berada pada angka 59,2 persen.
Angka ini lebih rendah dibandingkan tingkat kepuasan terhadap keamanan dan persatuan nasional.
Ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap kritis.
Mereka mengakui bahwa stabilitas nasional terjaga.
Namun mereka juga berharap pemerintah mampu mempercepat berbagai program yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat.
Daya beli, kesempatan kerja, harga kebutuhan pokok, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif tetap menjadi harapan utama masyarakat.
Justru karena itu, data ini menjadi lebih kredibel.
Publik tidak memberikan penilaian karena loyalitas semata, melainkan berdasarkan pengalaman yang mereka rasakan.
Momentum untuk Mendorong Agenda Besar Indonesia
Tingkat kepercayaan publik yang tinggi memberikan kesempatan yang jarang dimiliki setiap pemerintahan.
Kepercayaan tersebut dapat menjadi fondasi untuk menjalankan berbagai agenda strategis nasional.
Mulai dari hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan, pengembangan sumber daya manusia, transformasi digital, hingga peningkatan investasi nasional.
Dengan dukungan legitimasi publik yang kuat, pemerintah memiliki ruang yang lebih besar untuk melakukan langkah-langkah jangka panjang yang diperlukan untuk memperkuat daya saing Indonesia.
Tantangannya bukan lagi menjaga kepercayaan itu tetap ada.
Tantangannya adalah mengubah kepercayaan tersebut menjadi kemajuan yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Kesimpulan
Survei Poltracking Indonesia memperlihatkan bahwa di tengah tekanan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, masyarakat Indonesia masih menaruh tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap keamanan nasional, kerukunan antarumat beragama, dan persatuan bangsa. Angka yang berada di atas 77 persen pada tiga indikator utama tersebut menunjukkan bahwa fondasi stabilitas Indonesia tetap kuat.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, stabilitas nasional menjadi salah satu modal penting yang memungkinkan Indonesia menghadapi berbagai tantangan global dengan lebih percaya diri. Ke depan, modal kepercayaan publik tersebut perlu dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang semakin berpengaruh di tingkat regional maupun global.












