5 min read252

Inflasi Mei 2026 Tetap Terjaga, Menandakan Stabilitas Harga dan Daya Beli Masyarakat Masih Kuat

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan. Capaian ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi stabil meskipun menghadapi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, energi, dan transportasi. Stabilitas inflasi menjadi bukti bahwa berbagai kebijakan pengendalian harga yang dilakukan pemerintah mampu menjaga daya beli masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional.

O

OP Admin

Published in Arah Informasi

Loading...
Inflasi Mei 2026 Tetap Terjaga, Menandakan Stabilitas Harga dan Daya Beli Masyarakat Masih Kuat

Inflasi Tetap Terkendali di Tengah Tekanan Harga Global dan Domestik

Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang terjadi sepanjang Mei 2026, Indonesia berhasil mempertahankan laju inflasi pada level yang relatif rendah. Berdasarkan data BPS, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,28 persen, meningkat tipis dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,13 persen.

Sementara itu, inflasi tahunan berada di angka 3,08 persen dan inflasi kalender Januari hingga Mei 2026 mencapai 1,35 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga yang terjadi masih berada dalam batas yang dapat dikelola dan belum mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Kondisi ini menjadi capaian yang penting mengingat pada periode yang sama terdapat sejumlah faktor yang berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Mulai dari penurunan produksi komoditas hortikultura, kenaikan harga LPG nonsubsidi, hingga meningkatnya harga avtur yang berdampak pada sektor transportasi.

Namun berbagai tekanan tersebut berhasil diimbangi oleh kebijakan stabilisasi yang menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar.


Kenaikan Harga Pangan Terjadi, Tetapi Tidak Memicu Gejolak Besar

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar selama Mei 2026 dengan andil sebesar 0,12 persen terhadap inflasi nasional.

Cabai merah menjadi komoditas yang mengalami kenaikan harga paling tinggi dengan inflasi mencapai 25,64 persen dan memberikan andil sebesar 0,08 persen. Selain itu, bawang merah mengalami inflasi 6,65 persen, tomat naik 9,82 persen, minyak goreng meningkat 2,87 persen, dan beras mengalami inflasi sebesar 0,38 persen.

Kenaikan harga tersebut terutama dipengaruhi oleh menurunnya hasil panen di berbagai sentra produksi akibat cuaca ekstrem, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tanaman. Beberapa daerah seperti Garut, Temanggung, dan Malang tercatat mengalami penurunan produksi dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski demikian, tidak semua komoditas pangan mengalami kenaikan harga. Daging ayam ras mencatat deflasi sebesar 3,83 persen dengan andil minus 0,06 persen. Telur ayam ras turun 5,14 persen dengan andil minus 0,05 persen, sedangkan bawang putih mengalami deflasi sebesar 3,06 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa distribusi dan ketersediaan pangan nasional secara umum masih berjalan baik sehingga tekanan harga tidak meluas ke berbagai komoditas lainnya.


Penyesuaian Harga Energi dan Transportasi Berlangsung Secara Terkendali

Selain sektor pangan, inflasi Mei 2026 juga dipengaruhi oleh penyesuaian harga pada sektor energi dan transportasi.

Harga LPG nonsubsidi mengalami kenaikan sekitar 19 persen sejak pertengahan April 2026 sebagai respons terhadap perkembangan harga energi global. Di saat yang sama, kenaikan harga avtur di berbagai bandara domestik mendorong meningkatnya tarif angkutan udara.

Kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen terhadap inflasi nasional. Tarif angkutan udara naik 2,75 persen, solar meningkat 4,22 persen, pelumas kendaraan naik 3,85 persen, sementara biaya servis kendaraan bertambah 0,70 persen.

Meski terjadi kenaikan pada sejumlah komponen tersebut, dampaknya terhadap inflasi secara keseluruhan masih relatif moderat. Tidak terjadi lonjakan biaya yang berlebihan pada sektor-sektor lain yang dapat memicu tekanan inflasi lanjutan.

Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan penyesuaian harga energi dilakukan secara bertahap dan tetap memperhatikan kondisi daya beli masyarakat.


Inflasi Inti yang Rendah Menjadi Indikator Positif

Salah satu aspek penting dalam data inflasi Mei 2026 adalah tetap rendahnya inflasi inti. Komponen ini sering digunakan untuk mengukur tekanan harga jangka panjang karena tidak dipengaruhi oleh faktor musiman maupun gejolak sementara.

Pada Mei 2026, inflasi inti tercatat sebesar 0,22 persen dengan andil 0,14 persen terhadap inflasi umum. Komoditas yang berkontribusi antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop, nasi dengan lauk, pelumas kendaraan, dan biaya pemeliharaan.

Rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa kenaikan harga yang terjadi belum menyebar secara luas ke berbagai sektor ekonomi.

Sementara itu, kelompok harga bergejolak (volatile food) juga hanya mencatat inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil 0,04 persen. Angka ini tergolong rendah apabila dibandingkan dengan tekanan pasokan yang terjadi pada sejumlah komoditas pertanian.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa ekspektasi inflasi masyarakat masih terjaga dan risiko lonjakan harga yang lebih besar masih dapat dikendalikan.


Harga Emas Turun dan Membantu Menahan Laju Inflasi

Menariknya, di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami deflasi sebesar 0,74 persen.

Penyebab utama deflasi tersebut adalah turunnya harga emas perhiasan sebesar 2,67 persen yang memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen terhadap inflasi nasional.

Penurunan harga emas telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut sejak Maret 2026. Tren ini mengikuti pelemahan harga emas dunia yang turun dari level US$5.019,97 per troy ounce menjadi sekitar US$4.587,21 per troy ounce pada Mei 2026.

Koreksi harga emas memberikan kontribusi positif dalam menahan laju inflasi secara keseluruhan sehingga tekanan dari sektor pangan dan energi tidak menjadi lebih besar.


Fundamental Ekonomi yang Kuat Menjadi Penyangga Stabilitas

Stabilitas inflasi yang terjaga tidak terlepas dari kondisi fundamental ekonomi nasional yang masih solid.

Pada April 2026, Indonesia kembali mencatat surplus perdagangan sebesar US$0,09 miliar. Capaian ini memperpanjang rekor surplus perdagangan Indonesia menjadi 72 bulan berturut-turut.

Sepanjang Januari hingga April 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen.

Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 tercatat sebesar 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan April 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pendapatan petani meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang mereka keluarkan.

Surplus perdagangan yang berkelanjutan, stabilitas nilai tukar rupiah, dan meningkatnya kesejahteraan petani menjadi fondasi penting yang membantu menjaga kestabilan harga di dalam negeri.


Inflasi Rendah Menjadi Bukti Ketahanan Ekonomi Nasional

Data inflasi Mei 2026 memperlihatkan bahwa Indonesia mampu menjaga stabilitas harga di tengah berbagai tekanan yang muncul dari sektor pangan, energi, maupun transportasi.

Kenaikan harga minyak dunia, penurunan produksi beberapa komoditas pertanian, serta penyesuaian harga LPG nonsubsidi tidak berkembang menjadi lonjakan inflasi yang membebani masyarakat secara luas.

Keberhasilan ini merupakan hasil dari koordinasi berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam menjaga pasokan pangan, memperkuat distribusi barang, mengawasi harga di pasar, serta memastikan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter tetap berjalan optimal.

Bagi masyarakat, inflasi yang terkendali berarti harga kebutuhan pokok yang lebih stabil, daya beli yang tetap terjaga, serta kepastian ekonomi yang lebih baik dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, capaian inflasi Mei 2026 menjadi salah satu indikator bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang positif.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles