
Harga Ekspor Biji Kakao Melonjak 17,24% Menjadi US$3.832,17 per Metrik Ton
Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi (HR) biji kakao periode Juni 2026 sebesar US$3.832,17 per metrik ton (MT). Angka tersebut naik sebesar US$563,48 atau 17,24 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan ini juga mendorong Harga Patokan Ekspor (HPE) kakao menjadi US$3.511 per MT.
Peningkatan harga dipicu oleh terganggunya pasokan global, terutama akibat berkurangnya produksi dari Nigeria serta meningkatnya biaya logistik internasional. Situasi ini membuat permintaan terhadap kakao dari negara-negara produsen lain, termasuk Indonesia, semakin tinggi.
Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai ekspor dan memperluas pangsa pasar di tengah tingginya kebutuhan industri cokelat dunia.
Komoditas Perkebunan Indonesia Semakin Menguat di Pasar Dunia
Penguatan harga kakao menjadi salah satu indikator bahwa komoditas perkebunan Indonesia semakin diperhitungkan di pasar internasional. Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan bahwa nilai ekspor kakao Indonesia pada 2024 mencapai sekitar US$2,65 miliar dengan volume ekspor mencapai 348 ribu ton.
Indonesia juga terus mempertahankan surplus perdagangan kakao dalam beberapa tahun terakhir. Outlook Kakao 2025 dari Kementerian Pertanian mencatat bahwa neraca perdagangan kakao Indonesia menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan rata-rata lebih dari 33 persen per tahun.
Dengan permintaan global yang terus meningkat, kakao menjadi salah satu komoditas strategis yang berpotensi memperkuat devisa negara sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah sentra perkebunan.
Lonjakan Harga Tingkatkan Pendapatan Petani Lokal
Kenaikan harga kakao di pasar internasional turut memberikan dampak positif bagi petani di berbagai daerah penghasil kakao. Meningkatnya harga referensi dan harga jual komoditas mendorong kenaikan pendapatan petani yang selama ini menjadi tulang punggung industri kakao nasional.
Saat ini sekitar 99 persen kebun kakao Indonesia dikelola oleh perkebunan rakyat. Tercatat lebih dari 1,5 juta kepala keluarga menggantungkan hidup pada sektor kakao dengan produksi nasional mencapai lebih dari 616 ribu ton pada 2024.
Dengan harga yang lebih baik, petani memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas, melakukan peremajaan tanaman, serta memperbaiki kualitas hasil panen. Dampak berantai ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah sentra kakao seperti Sulawesi, Sumatera, dan kawasan timur Indonesia.
Indonesia Sukses Memperkokoh Posisi sebagai Pemasok Utama Cokelat Global
Sebagai salah satu produsen kakao terbesar dunia, Indonesia terus memperkuat perannya dalam rantai pasok industri cokelat global. Negara tujuan utama ekspor kakao Indonesia mencakup India, Amerika Serikat, Malaysia, Tiongkok, Belanda, hingga berbagai negara Eropa lainnya.
Selain ekspor biji kakao, pemerintah juga terus mendorong hilirisasi industri agar nilai tambah lebih banyak dinikmati di dalam negeri. Strategi ini terbukti meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia sekaligus memperbesar kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional.
Dengan kombinasi kenaikan harga global, meningkatnya permintaan pasar, dan penguatan industri hilir, Indonesia memiliki peluang besar untuk semakin memperkokoh posisinya sebagai salah satu pemasok utama bahan baku cokelat dunia dalam beberapa tahun mendatang.












