3 min read342

Standardisasi ESG Pariwisata Diperkuat, Pemerintah Bidik Investasi Hijau dan Kelestarian Destinasi

Pemerintah mulai memperkuat penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor pariwisata sebagai bagian dari transformasi pariwisata berkelanjutan. Kebijakan ini diarahkan untuk menarik investasi hijau global, mendukung pengelolaan lingkungan, serta menjaga daya saing destinasi wisata Indonesia di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu keberlanjutan.

O

OP Admin

Published in Arah Informasi

Loading...
Standardisasi ESG Pariwisata Diperkuat, Pemerintah Bidik Investasi Hijau dan Kelestarian Destinasi

Menteri Pariwisata Wajibkan Penerapan Standar ESG

Pemerintah melalui Widiyanti Putri Wardhana menegaskan pentingnya penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor pariwisata nasional.

Dalam pembukaan Eco Tourism Week – Wonderful Indonesia Sustainable Tourism Industry Forum (WI-STIF) 2026 di Bali, Menteri Pariwisata menyampaikan bahwa standar ESG kini menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing industri pariwisata Indonesia. Pemerintah mendorong pelaku usaha pariwisata untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar kewajiban administratif.

Menurut Widiyanti, sektor pariwisata tidak lagi dapat hanya berfokus pada pertumbuhan jumlah wisatawan atau keuntungan ekonomi semata. Pengelolaan lingkungan, dampak sosial terhadap masyarakat lokal, serta tata kelola usaha yang baik kini menjadi indikator utama dalam menilai kualitas sebuah destinasi wisata.

Penerapan ESG juga dinilai penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan budaya lokal yang menjadi daya tarik utama Indonesia.


Langkah Strategis Menarik Investasi Hijau Global

Penguatan standar ESG di sektor pariwisata disebut menjadi salah satu strategi pemerintah dalam menarik investasi hijau atau green investment dari pasar internasional.

Kementerian Pariwisata menilai tren investasi global saat ini mengalami perubahan signifikan. Investor tidak lagi hanya mempertimbangkan potensi keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, dampak sosial, dan tata kelola perusahaan sebelum menanamkan modalnya.

Karena itu, penerapan ESG dianggap dapat meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap sektor pariwisata Indonesia.

Pemerintah sendiri menargetkan realisasi investasi pariwisata mencapai Rp63,5 triliun sepanjang 2026 yang difokuskan pada berbagai destinasi prioritas dan destinasi regeneratif di sejumlah wilayah Indonesia.

Dengan semakin kuatnya standar keberlanjutan, Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan berbagai negara lain dalam menarik investasi yang berorientasi pada pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan.


Sinergi dengan Program Pengelolaan Sampah Nasional

Penerapan ESG di sektor pariwisata juga dinilai sejalan dengan berbagai program pemerintah dalam pengelolaan lingkungan, termasuk pengurangan sampah dan pengendalian jejak karbon di kawasan wisata.

Dalam Rakornas Pariwisata 2026, Kementerian Pariwisata turut memperkenalkan Deklarasi Gerakan Keberlanjutan yang mendorong penghitungan emisi karbon serta pengelolaan destinasi berbasis konservasi lingkungan.

Langkah tersebut dianggap penting karena persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan terbesar di berbagai destinasi wisata Indonesia, terutama kawasan pesisir dan destinasi yang memiliki tingkat kunjungan tinggi.

Melalui pendekatan ESG, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata, tetapi menjadi bagian dari tata kelola destinasi yang memengaruhi citra dan daya saing pariwisata Indonesia di mata wisatawan global.

Pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri, komunitas lokal, dan investor dapat memperkuat upaya menjaga kualitas lingkungan destinasi wisata.


Fokus pada Kelestarian Lingkungan Pariwisata Indonesia

Pemerintah menilai kelestarian lingkungan menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan sektor pariwisata nasional dalam jangka panjang.

Berbagai destinasi unggulan Indonesia seperti Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, hingga Raja Ampat sangat bergantung pada kualitas lingkungan alam yang terjaga.

Karena itu, pendekatan ESG dipandang sebagai instrumen untuk memastikan bahwa pertumbuhan investasi dan pembangunan pariwisata tetap berjalan selaras dengan konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Pemerintah berharap standar ESG dapat menjadi fondasi baru dalam pengelolaan pariwisata Indonesia, sehingga sektor ini tidak hanya menjadi penggerak ekonomi nasional, tetapi juga berperan dalam menjaga ekosistem, budaya, dan keberlanjutan sumber daya alam untuk generasi mendatang.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles